Total Pageviews

CERITA MAK SARNIH

Mak Sarnih…begitu kami biasa memanggilnya. Perempuan paruh baya yang sudah dua puluh tahun mengabdi sejak perusahaan ini berdiri. Usianya sekitar enam puluh tahunan, namun kerutan di wajahnya tak menutupi sejarah kecantikannya, terlebih senyum tulus ikhlas tak pernah mengeluhnya apabila dimintai tolong oleh kami para karyawan. Ia merupakan satu-satunya ‘cleaning service’ senior di kantor kami

Mak Sarnih cukup membuatku jatuh hati dan ingin tahu? Aku ingin mendengar ceritanya...

Sore itu selepas pulang kerja, tepatnya 16 February 2016, Aku, Uni dan Alfani bersiap menuju ke rumah Mak Sarnih. Kami janjian di koperasi sambil membeli buah tangan alakadarnya untuk dibawa. Aku dibonceng teh Een, salah satu pegawai cleaning service juga di kantor kami, selain berbaik hati memberi tebengan padaku, teh Een juga bertugas sebagai penunjuk jalan bagi Uni dan Fani yang boncengan pinjam motor Iyan karyawan Kopkar. Lokasi rumah Mak sarnih tak terlalu jauh, di perkampungan belakang kawasan MM2100, mungkin masih termasuk desa Gandamekar.

Kurang lebih 15 menit kami sudah sampai disana, Mak Sarnih sumringah sekali kedatangan kami, dan langsung mengenalkan kami pada Ibu nya yang sudah berusia sangat lanjut, mungkin sekitar sembilan puluh tahunan lebih. Ternyata selain masih bekerja di usia senja, Mak Sarnih pun harus merawat Ibunya yang sudah tua renta dan tak bisa kemana-mana selain di tempat tidur. Pikiranku campur aduk, Mak Sarnih yang juga seorang ibu dari dua anak, dan nenek dari 3 orang cucu ini harus bekerja keras menjadi tulang punggung keluarga semenjak ditinggal suami nya meninggal.



Aku jadi teringat Ibu dirumah, melihat Ibu lelah melakukan pekerjaan rumah saja, kadang aku tak tega. Apalagi melihat Ibu bekerja di luar, disuruh-suruh orang, dan sebagainya. Tetapi mungkin pemikiranku berbeda dengan anak-anak Mak Sarnih yang sekarang pun sudah di usia produktif dan sudah berumah tangga.
Sambil sesekali terselip canda, tak terasa sudah tiga puluh lima menit kami mendengarkan cerita Mak Sarnih. Kami pun bergegas pamit pulang.

Sepanjang perjalanan pulang aku teringat hadits riwayat Ahmad, Thabrani, dan Daruqutni.
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama”.


Dan Mak Sarnih adalah salah satunya. Mak Sarnih laksana daun yang jatuh, yang tak pernah membenci angin. Tak melawan, mengikhlaskan semuanya. Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus.

Kami belajar bahwa menjadi pribadi yang bermanfaat adalah salah satu karakter yang harus dimiliki oleh seorang Muslim. Ini adalah bagian dari implementasi konsep Islam yang penuh cinta, yaitu memberi. 

Bukan soal berapa banyak materi yang diberi, tetapi lebih dari itu....

Betapa indahnya diingat, betapa indahnya didengar, betapa indahnya saling merangkul dalam kebersamaan ukhuwah Islamiyah.  


~solber~

1 comment:

Unknown said...

Berbagi dengan sesama laksana cermin; pengaruh kebaikannya memantul untuk pelakunya. Selain pahala yang niscaya diraih, Allah juga selalu menggantinya secara lebih baik, bahkan bertambah-tambah. Hal ini sebagaimana disabdakan Rasul SAW, "Tidak akan pernah berkurang harta yang disedekahkan (berbagi) kecuali justru ia bertambah, bertambah, bertambah.” (HR. Tirmidzi). Dalam Hadits lain ditegaskan, berbagi adalah untuk menurunkan karunia Ilahi. Nabi SAW bersabda, “Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sedekah (berbagi kepada sesama).” (HR. al-Baihaqi)
semoga kita selalu di kasih kesempatan untuk bisa saling berbagi kepada sesama,,Aamiin..........