Total Pageviews

JALAN KE UJUNG

After all that happened in my life recently, dengan segala suka duka, dinamika, dan drama-dramanya (hmmmp biasa aja sih sebenernya hahahw ^^), aku  pun nggak bisa memungkiri ke’hausan’ku akan jalan-jalan lagi. Laut, menghitam, hunting angle bagus, dan yang jelas alam Indonesia dengan segala fenomenanya selalu menjadi dahaga yang seolah tak pernah terpuaskan bagi traveler ala ala seperti aku. 

Aku langsung teringat akan Pulau Peucang. Sebenarnya sudah lama cari tau tentang Pulau yang tidak mudah dijangkau ini, tapi mungkin baru berjodoh Juni 2018 ini yaaa.


Rasanya nggak perlu terlalu detail aku info tentang Pulau Peucang, karena sudah banyak sekali artikel di internet yang membahasnya. So I’ll better make it short.
Pulau ini terletak di seberang semenanjung Ujung Kulon, di ujung paling barat Pulau Jawa, tepatnya di selat Panaitan. Bersama dengan Pulau Panaitan, dan Pulau Handeuleum, Pulau Peucang merupakan Pulau yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang diakui oleh UNESCO sebagai salah satu situs warisan dunia karena keberagaman flora dan faunanya. Serunya trip kali ini, walaupun tujuan utamanya adalah Pulau Peucang, kami juga akan singgah di beberapa spot yang keren di kawasan TNUK ini.



Menurutku gaes, kita beruntung sekali yaaa jadi orang Indonesia, mau wisata laut, banyak sekali pilihannya, mau wisata gunung juga tak kalah banyak. Bagi kalian yang memang kudu nabung dulu untuk jalan seperti aku, nggak perlu muluk muluk keluar Pulau Jawa yang memakan cost tiket pesawat jika ingin hemat. Di dalam Pulau Jawa sendiri, belum tentu kan kalian sudah kunjungi semua ?, mengenai keindahan dan keseruannya, sama sekali nggak kalah koq. Tergantung perspective kita masing-masing juga sih, dan yang nggak kalah penting, who do you travel with ?  ^^
My travel mate this time adalah temen-temen masa kecil aku, kenalan sama mereka dulu yaaa...

Rini Wulandari



Aku dan Rini berteman sejak tahun 1993, ketika aku dan keluargaku pindah ke Pondok Gede (sekarang Pondok Melati), tepatnya di kelurahan Jatirahayu. Aku yang masih berusia 6 tahun dan duduk dibangku kelas 1 SD tentunya belum memiliki teman di awal masa kepindahan kami. Entah bagaimana proses berkenalan kami sebagai anak kecil pada saat itu, yang aku ingat, Rini lah yang menjadi teman pertamaku. Rini yang kebetulan rumahnya tak jauh dari rumahku, sering mengajakku berangkat dan pulang sekolah bersama. Waktu kecil ibu satu anak ini sangatlah tomboy dengan potongan rambut pendek seperti laki2 dan berperawakan gendut (nggak nyangka sekarang feminin sekali :D). SD dan SMP bersama, di masa-masa SMA dan pasca SMA kami sempat jauh, karena menjalani fase pra remaja dan remaja secara berbeda. Sekarang kami telah tumbuh menjadi wanita dewasa dengan ceritanya masing-masing. Yang mendekatkan kami kembali adalah karena kami sama-sama suka traveling DAN kami sama-sama sedang belajar menjadi muslimah yang lebih baik, ingin menjadi muslimah yang senantiasa bersyukur, tentunya sulit, maka dari itu aku butuh banyak teman untuk membantuku tetap istiqomah, karena hijrah tidaklah mudah.
Oke enough with the heavy ^^, akhirnya Rini semangat sekali ketika aku bilang mau liburan ke Peucang, dan jadilah ini kali pertama kami ngetrip bareng setelah beribu2 wacana sebelumnya yang selalu gagal..^^

Riztia Amelia



Kami juga kenal sejak tahun 1993, karena memang bersekolah di SD yang sama. Aku dan Riztia dulu sama sekali tidak dekat, karena sepertinya kami punya genk yang berbeda (anak kecil juga udah ada genk2an yaa). Seingatku Riztia kecil itu, pemberani, PD, banci tampil lah pokoknya ^^. Nggak heran apabila Riztia yang juga ibu dari 1 anak ini sekarang adalah seorang Guru SD. Setelah dewasa aku dan Riztia pun bertemu hanya di moment moment Reuni. Happy to hang out with you again my childhood friend.


I T I N E R A R Y

Menuju Dermaga Sumur

Butuh waktu 7 jam dari Jakarta menuju Dermaga Sumur, Dermaga inilah yang akan menjadi akses bagi para wisatawan menuju Pulau Peucang atau wilayah Taman Nasional Ujung Kulon lainnya.

Di sepanjang awal perjalanan, aku, Rini, dan Riztia yang duduk bertiga berhimpit-himpitan asik curcol panjang lebar ngalor ngidul, disaat penumpang lain tertidur lelap menghemat tenaga untuk nge trip. Aku selalu menikmati perbincangan berkualitas bersama teman-teman "sefrekuensi" seperti Rini dan Riztia. Aku semakin mengerti bahwa semua yang terjadi pada hidup manusia merupakan hasil dari keputusan-keputusan yang mereka ambil di masa lalu. Maka apapun yang terjadi di masa sekarang, jangan pernah menyesalinya, jadikan pelajaran dan hiduplah di jalan yang lurus, di jalan Allah SWT, insya Allah kita akan selamat. Tssaaahhh kembali berat sepertinyaa ^^. 

Baiklah, back to the trip, disaat mata kami mulai lelah, perjalanan mulai terasa extreme. Selepas kecamatan Cibaliung, dan kecamatan Cimanggu, Banten, berhasil terlewati tanpa masalah yang berarti, memasuki kecamatan Sumur, jalanan berkelok ditambah kondisi jalan yang rusak membuat penumpang bis yang sebelumnya tertidur pulas, terbangun dan was was akan guncangan yang terjadi didalam bis akibat jalanan yang sebenarnya tidak layak untuk dilewati bis besar tersebut. Aku pun terus terjaga sambil berdoa agar kami bisa sampai dengan selamat. 
Seharusnya infrastruktur akses menuju TNUK ini menjadi perhatian Pemerintah Daerah setempat, karena TNUK merupakan obyek wisata menjanjikan dan menjadi salah satu sumber pendapatan daerah.
Alhamdulillah sekitar pukul 4:20 pagi, kami sampai di dermaga Sumur. Disana juga disediakan toilet dan mushola bagi para wisatawan sebelum menyeberang.


capturing sunrise
ini dikala menyeberang dari Sumur ke Peucang



                             
Padang Pengembalaan Cidaon

Sebelum sampai di Peucang kami sempat singgah dulu di Padang pengembalaan Cidaon. Terletak di sebelah barat TNUK tepat berseberangan dengan Pulau Peucang, walaupun lokasinya masih di Pulau Jawa, Padang Cidaon harus ditempuh melalui perjalanan laut dengan menggunakan perahu bermesin selama 3 jam dari dermaga Sumur ke bibir pantainya. Dari bibir pantai Cidaon hanya butuh berjalan kaki sekitar 100 meter untuk sampai di savana.








Sebenarnya bukan tidak bisa ditempuh dengan jalan darat, bagi kamu yang mau menjelajah hutan dan berjalan kaki, bisa ditempuh dalam waktu beberapa hari, karena tidak adanya akses jalan dan transportasi. Padang Cidaon memiliki luas sekitar 4 hektar dan merupakan habitat bagi satwa-satwa seperti banteng, burung merak hingga katanya apabila beruntung bisa bertemu dengan badak bercula satu yang sudah semakin sedikit populasinya.

daun daun kering pun kujadikan properti ^^

Waktu yang tepat untuk menyaksikan satwa-satwa ini adalah pagi dan sore hari, dan bukan pada saat matahari terik. Tentunya wisatawan juga harus menjaga jarak dan tidak boleh berada terlalu dekat apabila ingin melihat satwa-satwa cantik tersebut. Sayangnya kami sampai bukan di waktu yang tepat. 

kecewa penghuninya pada ngumpet


Akhirnya kita assiik sendiri ^^

Tiba di Pulau Peucang

Setelah mampir ke Padang Cidaon, kami langsung diantar ke Pulau Peucang, hanya butuh waktu sekitar 10 menit untuk sampai ke Peucang dari Cidaon. Pulau yang dikelilingi pasir putih nan halus ini tidak berpenduduk, hanya ada rumah pengelola TNUK dan beberapa cottage yang dikelola oleh perusahaan tertentu. Bangungan cottage di design seperti rumah panggung dengan bahan dasar kayu, terlihat sederhana namun cukup eksotis, dan lumayan nyaman. Tetapi cottage-cottage disini sepertinya tidak dibersihkan secara berkala, hanya dibersihkan ketika ada wisatawan berkunjung dan hendak menginap. 




Di Pulau ini, hewan-hewan liar pun masih bebas berkeliaran, seperti monyet, babi hutan, dan rusa yang disebut peucang. Rumput-rumput yang kami injak pun sepertinya sudah menyatu dengan kotoran-kotoran peucang. Tak jarang pula kami berpapasan dengan babi hutan yang berkeliaran di sekitar cottage. Monyet-monyet pun sengaja menghampiri setiap ada manusia yang mereka pikir mungkin membawa makanan. Yaaa begitulah kira-kira suasana di Pulau Peucang, hewan-hewan liar tersebut sepertinya sudah terbiasa dengan kehadiran manusia yang bermain-main ke wilayah mereka.


ketemu mereka 


Pantai nya Peucang





Setelah istirahat sebentar, sekitar pukul 14:30 siang kami langsung diajak snorkeling ke 2 snorkeling spot disekitar Pulau Peucang. Snorkling spot di perairan ini menurutku cukup berarus kencang dan juga cukup dalam, butuh tenaga extra bagi kami yang turun untuk tidak terbawa arus. 


sangar spot nya

Efek snorkeling baru terasa pada saat malam hari, rasa linu melanda kedua kakiku, untunglah Rini membawa minyak angin yang cukup panas. Sebelum tidur aku menggosok-gosokkan seluruh permukaan kedua kakiku dari paha hingga telapak kaki dengan minyak angin tersebut. Hehe maap yaah rin, jadinya aku yang pake ^^ .

pulang snorkeling, hunting sunset

only taken with hp cam

so pretty sight


Berkano di sungai Cigenter

Di hari ke dua trip ini, sekitar pukul 07:00 pagi kami sudah harus meninggalkan penginapan di Peucang untuk bertolak ke Pulau Handeulem, sebuah pulau kecil yang masih termasuk kawasan TNUK. 





Menuju Handeleum

Pulau ini terbelah oleh sungai bernama Cigenter. Di sungai Cigenter terdapat guide lokal yang akan membawa kami para wisatawan untuk berkano menggunakan sampan menyusuri sungai yang disebut-sebut Amazonnya Indonesia ini. Air yang hijau dan hutan yang tak terjamah di kanan kiri sungai menambah keseruan pengalaman berkano di Cigenter ini. 



bagi yg belom kesini, kalian kudu coba nih Canoeing
ke habitat buaya muara hiihi

Konon sungai ini adalah habitat ular serta buaya muara, ngeri ngeri asoy memang, ahh tapi bermodalkan Bismillah dan dijaga oleh sang pemandu, syukur alhamdulillah pengalaman canoeing kami aman terkendali walaupun sesekali para wanita rempong rombonganku termasuk aku, heboh berteriak-teriak apabila merasa sampan miring ke kiri atau ke kanan ^^ .




Pulau Badul

Setelah berkano ria di Cigenter, di panas yang terik, kami lalu singgah ke sebuah pulau kecil di tengah laut yang bernama Pulau Badul. Pulau kecil ini berupa hamparan pasir putih dan tidak berpenghuni, hampir sama dengan Pulau Pasir di Belitung atau Gili Pasir di Lombok, bedanya Pulau Badul sepertinya lebih luas dan ditumbuhi pohon - pohon ditengahnya. Perahu yang agak besar memang tidak bisa berlabuh di tepi pantainya, sehingga kami harus berenang sekitar 25 meter untuk mencapai bibir pantai. 




Kecantikan pulau ini membuatku lupa akan panasnya matahari yang menyengat, aku, Rini, dan Riztia asyik bermain air menikmati pasir putih dan air jernihnya. Tapi jangan lupa memakai sunblock spf 50 yaaah gaes sebelumnya. 


foto blur karena camera hp dilapisi water resistance


berenang dibawah terik matahari

Pulau Badul menjadi destinasi terkahir pada trip Ujung Kulon ini, Pukul 15:00 sore kami sudah kembali ke Dermaga Sumur, di kecamatan Sumur, kabupaten Pandeglang Banten, dan pukul 16:00 kami sudah berangkat menuju Jakarta.

Perjalanan menuju TNUK memang dramatis, tetapi menurutku it is worthy enough...

Selamat mencoba bagi kalian yang belum ^^ 


~See you gaes all~

No comments: