Total Pageviews

DANAU MANINJAU, KELOK 44 & PUNCAK LAWANG ..

Cerita Sebelumnya >> Laskar Minang 




Danau Maninjau dan Kelok Ampek – ampek bagaikan dua sejoli yang tak terpisahkan dan menjadi simbol kebanggaan masyarakat Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Eksotisme jalanan kelok 44 yang menanjak terjal meliuk-liuk tajam dari lembah Maninjau sampai ke Puncak Lawang, cukup menjadi mood booster kami, setelah sempat menggerutu bosan tak tentu, karena Uda Depi sang driver menjemput ke Bandara lewat dari jam yang telah ditentukan. Bak ingin mengganti moment yang sempat terbuang, pilihan destinasi kami ini tepat sekali dan seolah terbayar sudah.


Danau Maninjau dari Kelok 3


Uda Depi yang asli berdarah Minang ini begitu lihai mengikuti setiap liukan tajam kelok demi kelok.

“Jangan ngaku jago nyetir deh kalo belom nyobain nyetir disini”, begitu kira-kira celoteh Saihuri di dalam mobil sambil menahan mual syndrom kelokan patah-patah ini.
“Saihuri bisa nyetir disini ?” tanya Uda ke Saihuri,
“Nggak berani da”,  jawab Sai.

hahaha sambil tergelitik, dalam hati aku menyimak.

Tebing-tebing curam, sawah-sawah yang membentang luas, mendampingi kanan kiri perjalanan kami di kelok ampek ampek ini. Tak jarang pula monyet-monyet berlalu lalang menghiasi kelok yang menjadi bahan lelucon Uni, dengan memanggil-manggil monyet dengan nama-nama kami. (kalo nggak iseng bukan Uni namanya).

Ada pemandangan yang mencuri perhatian kami di kelok 34, view rumah khas Minang berhalamankan sawah bertingkat nan elok, membuat kami singgah sementara untuk mengabadikannya. 

view dari kelok 34

cieehh hanimun lagiihh...

nunjuk2 apa nih Kak Fe

Asik berfoto-foto, tiba-tiba sekumpulan pedagang kain khas Minang menghampiri kami menawarkan jualannya yang menggoda dengan harga murah. Jadilah kami shopping dadakan di kelok 34, beberapa jilbab dan kain songket khas Minang pun kami bawa pulang. Alhamdulillah senang melihat pedagang-pedagang ini laris.

PUNCAK LAWANG
Setelah menyusuri kelok-kelok yang berjumlah 44 itu, kami tiba di puncak lawang, sebuah dataran yang cukup tinggi untuk didaki dan menjanjikan kami keindahannya...ahhh awannya cantiik, anginnya segar, harum, aku kagum.

amazed by ...

Pernahkah kalian merasa ada yang berubah pada diri kalian ?
menurut ilmu psikologi yang dikutip dari situs wikipedia, sang expert Gordon Allport menyatakan,  bahwa kepribadian sebagai suatu organisasi (berbagai aspek psikis dan fisik) yang merupakan suatu struktur dan sekaligus proses.

Jadi, kepribadian merupakan sesuatu yang dapat berubah. Secara eksplisit Allport menyebutkan, kepribadian secara teratur tumbuh dan mengalami perubahan.

Perubahan, itu yang aku rasakan, tak pasti karena apa, dan sejak kapan. Kalaupun aku tahu, itupun butuh penjabaran panjang. Yang pasti akhir-akhir ini, aku lebih menyukai keheningan, lebih menikmati kesyahduan dan kualitas waktu bersama sedikit sahabat sehati, dibanding hiruk pikuk kelakuan dan hingar bingar kebisingan guyonan. maybe that's the part of growing up.


Disini…di hamparan tanah luas ku terhempas
Ditemani sorak sorai kerabat yang tergelak
Sambil ditusuki dingin aku berdecak
Memuji karya sang Agung dengan anginnya yang mengoyak ..
Aku pilu … aku rindu berada di tempat syahduu…

Disini…di puncak lawang nan tinggi ku melepas
Melepas dan terlepas dari eratnya rangkulan angan lalu...
Di puncak lawang ini aku merindu, tak mengapa , karena aku selalu tanpa ”mu” ….


Baca selanjutnya >> Cerita hari ke dua 

No comments: