Total Pageviews

PAYAKUMBUH DAN BUKITTINGGI

Cerita Sebelumnya >> Danau Maninjau, Kelok 44 & Puncak Lawang



Jembatan Kelok 9 yang memukau ...

Ranah Minang Vacation di hari ke dua kembali melanjutkan perjalanan ke beberapa objek wisata yang telah tercatat dalam itinerary kami. Tepat pukul 07:30 kami bertolak dari Padang Panjang, tempat kami bermalam menuju destinasi pertama yaitu Kelok 9. 


pamitan sama Mak Uwo 

ehemmm with Uda Depi si Sutan Mudo


Kelok 9 adalah jalanan berkelok yang terletak sekitar 30 km sebelah timur Kota Payakumbuh, Sumatera Barat menuju Provinsi Riau. Payakumbuh sendiri adalah sebuah kota yang terletak di daerah dataran tinggi dan merupakan bagian dari bukit barisan dan berada pada hamparan kaki Gunung Sago. 


Menuju Kelok 9


Jaraknya dari Kota Padang sekitar 120 km. Setelah sekitar 2 jam melewati jalanan menanjak seraya menikmati pemandangan bumi Sum-bar yang ranca’, tibalah kami di jembatan yang diresmikan oleh mantan Presiden RI Bpk. SBY ini.

Kelok 9


“sebenernya yang dinamakan kelok 9 yang itu”. Kata Uni sambil menunjuk ke ruas jalan berkelok yang menanjak itu.

Tak sampai bisa menghitung apakah benar ada Sembilan, mobil yang dibawa oleh driver handal lintas sumatera alias Uda Depi ini melesat cepat membawa kami ke jembatan kelok 9 yang mengagumkan.
Menurut info yang saya baca dari beberapa blog lain, karena penyempitan di Kelok Sembilan, perjalanan dari Bukittinggi menuju Pekanbaru yang mestinya dapat ditempuh dalam waktu 4 jam, harus ditempuh 5-6 jam. Karenanya, dibangunlah jembatan kelok 9 ini pada tahun 2003. Dan saat ini tidak hanya memperlancar akses Sum-bar ke Riau, tetapi kelok 9 juga menjadi objek wisata yang sering dikunjungi oleh wisatawan.
Inilah hasil jeprat jepret kami di kelok 9 : 


“The gladdest moment in human life, me thinks,
is a departure into unknown lands.” – Sir Richard Burton

mak feraa ^_^

Ada tukang foto keliling di sekitar kelok 9, 
mereka beroperasi menggunakan sepeda motor,
dan hasil foto bisa langsung dicetak.
biayanya 25rb perfoto



ini nih hasil foto nya...


Tak jauh dari kelok Sembilan kami menuju destinasi selanjutnya.
Coba lihat fotoku di bawah ini, ada yang tau dimana???





Cantik tak ??? ( pemandangannya :p ) ....

yaapp Anda benar jika menjawab Lembah Harau. Lembah harau adalah kawasan lembah yang subur di kecamatan Harau, jalannya berbukit-bukit dan bergelombang. Sebenarnya lembah Harau ini adalah cagar alam yang dikelola pemerintah Sum-bar, dan terdiri dari beberapa resort. Salah satu yang kami kunjungi adalah resort Aka Barayun yang memiliki beberapa air terjun cantik dan juga taman-taman bermain untuk anak-anak dan keluarga. Berikut foto-foto Laskar Minang di lembah Harau.

^_^

Keren yaaa ??? ...tebingnyaaa :p

paling juara deh si acung kl soal pose .. 

Etu dan Uni .. 

ciee Nova sampe miring-miring gitu ... :D

kita numpang makan siang disini ... ^_^


Dari lembah Harau payakumbuh Perjalanan kami lanjutkan ke Bukittinggi. Kota yang pernah menjadi Ibu kota Indonesia pada masa Pemerintahan Darurat RI ini, kami jadikan sebagai kota destinasi terakhir di hari ke 2.  Siapa yang tak pernah dengar tentang Jam Gadang ? yaa...menara jam tersebut menjadi landmark kota yang berada di tepi Ngarai Sianok ini.

The great wall of kotogadang..
Sudah cukup lama aku menginginkan menginjakkan kaki di great wall nya Sum-bar ini. Walaupun tak sepanjang di China, the great wall of kotogadang ini menjadi objek wisata yang cukup banyak dikunjungi oleh wisatawan. 


Menuju great wall 

Jembatan ini harus dilewati sebelum menaiki great wall 
dan max hanya boleh 10 orang sekali lewat

belum terasa capek nih kayanya ... 


Tidak hanya wisatawan dari Sum-bar, Riau atau daerah sekitarnya, ternyata pengunjung juga datang dari bagian bumi Indonesia yang lain seperti kami yang datang dari Bekasi. Dan banyak juga yang dari Tanah Abang ^^Hehhehe.
Janjang Koto Gadang ini ternyata bukan saja berfungsi sebagai objek wisata, tetapi juga berfungsi menghubungkan dua kawasan yaitu Bukittinggi dan Agam.




Untuk sampai ke puncak kami harus melalui banyak sekali anak tangga dengan jarak kurang lebih 1km, beberapa diantara kami tidak sampai ke puncak karena kelelahan. Tetapi sudah kepalang tanggung sampai disini jika tidak memanfaatkan keindahan Ngarai Sianok yang dijanjikan great wall kotogadang ini di puncaknya. Aku, Restu, Nova, Saihuri, Lastri, Iqbal dan Fani memutuskan terus melangkah setapak demi setapak menghabisi anak-anak tangga ini.


ayoooo ... !!!

Tugu ini sebagai bukti kita telah sampai di Puncak great wall...

view dari puncak great wall ... 

Ngarai Sianok dari atas great wall..

Aku memang mengakui keindahan Bukittinggi dan Great wall nya ini, tetapi sangat disayangkan gaes, objek wisata yang sebenarnya keren ini, sepertinya kurang mendapat perhatian dari Pemerintah setempat.
Objek wisata ini sangat minim fasilitas dan terlihat kurang terawat. Kami sempat bingung mencari toilet ketika baru tiba dan ternyata toilet menumpang di rumah warga sekitar dengan kondisi toilet yang memprihatinkan. Banyak coretan-coretan bocah bocah alay di tembok. Jembatan menuju kelok pun sudah tua dan tak terawat.
Restaurant, toko atau spot untuk nongkrong pun tidak terlihat. Saya hanya mendapati warung-warung kecil dan pedagang souvenir emperan di sekitar.
Seandainya dinas pariwisata Sum-bar memberi perhatian lebih ( seperti memperbaiki bagian-bagian yang rusak, memperketat peraturan untuk tidak mencorat-coret tembok dan menjaga kebersihan, membangun beberapa fasilitas menarik seperti restaurant, taman dan caffe di area great wall, dll ) terhadap objek wisata ini, tentunya akan menjadi investasi yang menjanjikan. 

Sebelum pulang kami mampir ke Jam gadang dan pasar disekitarnya untuk shopping dan nongkrong cantik sebentar. Mas Sai dan Lastri sukses ngeborong dan memiliki daftar belanjaan paling banyak. Awalnya kami mengandalkan Uni sebagai satu-satunya yang bisa menawar supaya mendapat harga murah. Tetapi ternyata Kak Fera yang sebenarnya juga berdarah Minang, hanya saja ia tumbuh di Jakarta dan sebelumnya kami juluki orang Padang murtad ini, tertawa kegirangan setiap kali berhasil menawar dengan Bahasa Padangnya. Hahahaw, Kak fe...lucu melihat tingkahnya. 

Landmark Bukittinggi


Jam Gadang malam itu sangat ramai pengunjung. Karena hari sudah gelap dan kami juga sudah cukup lelah, akhirnya kami hanya berfoto sebentar lalu kembali ke Padang Panjang. 




source : 
https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Bukittinggi
https://id.wikipedia.org/wiki/Payakumbuh

2 comments:

Pixie Box said...

Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai "Payakumbuh dan Bukittinggi ..".
Indonesia memang mempunyai berbagai tempat wisata yang menarik

Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai Pariwisata Indonesia yang bisa anda kunjungi di Informasi Seputar Pariwisata

Gita Scorini said...

terimakasih sudah mampir mba Annisa...terimakasih referensi "Informasi Seputar Pariwisatanya"